KOMPAS.com — Puasa Ramadhan di Eropa tahun ini jatuh
pas musim panas, yang berarti jarak antara terbit dan terbenamnya
matahari mencapai 19 jam. Selama itu pula kaum Muslimin harus menahan
lapar dan dahaga berpuasa.
Puasa 19 jam? Kalau melihat angka 19
memang terasa lama sekali. Itu pula yang dibayangkan Ketua Indonesia
Islamic Centre (IIC) London Memet Purnama Hasan. ”Saya baru pertama kali
ini merasakan puasa Ramadhan di musim panas. Bayangan saya, pasti lemes
banget,” katanya.
Ternyata, 19 jam akan berlalu dengan cepat jika
waktu itu dimanfaatkan untuk bekerja. ”Memang lebih lamanya itu terasa,
tapi ya bisa kok. Sore setelah kerja, ya tinggal nunggu beberapa jam
untuk berbuka,” ujar Memet.
Pada hari-hari awal Ramadhan, 19 jam
memang terasa berat. Namun, justru di situlah tantangannya, seperti
dirasakan Ashleika Adelea (25), mahasiswi Arsitektur University College
London, yang saat ini sedang menyusun disertasi masternya. Ia bahkan
menemani teman-temannya makan dan ngopi di kafe. Sementara
teman-temannya yang tidak berpuasa makan, ia sibuk memencet-mencet
tombol telepon selulernya.
”Mulanya terasa berat, tapi lama-lama
terbiasa. Justru pas saat berbuka jadi nikmat. Lalu sorenya, mulai
merancang-rancang mau berbuka di mana, pakai lauk apa. Kayak hari ini,
aku mau buka puasa makan ramen di China Town. Puasa jadi seru,” kata
Ashleika.
Menurut Memet, perputaran bulan membuat puasa menjadi
dinamis. Pada saat musim dingin, puasa sangat singkat, berbuka ibaratnya
hanya menggeser waktu makan siang. ”Jadi, ya, Allah sudah mengatur.
Kadang diberi puasa panjang, kadang pendek. Kalau puasa pendek senang,
masak kalau pas panjang kita tidak bisa menerima,” tuturnya.
Lama
dan singkatnya berpuasa sudah dialami bertahun-tahun oleh Dewi Mukti,
Suciningsih, dan Sri Lestari, pegawai di KBRI London yang sudah lebih
dari 20 tahun tinggal di London. ”Puasa yang sangat singkat pernah
merasakan, panjang juga iya. Tahun depan bahkan akan lebih panjang lagi,
bisa 20 jam puasanya,” kata Lestari.
Oleh karena itu, untuk
mengisi Ramadhan, IIC bekerja sama dengan KBRI dan masyarakat Muslim di
London menggelar serangkaian kegiatan. Ada pengajian rutin sepekan dua
kali dengan mengundang Ustaz A Salim Fillah dari Universitas Gadjah
Mada, Yogyakarta, lalu pesantren kilat untuk anak-anak dan remaja, serta
beberapa kegiatan seni.
”Mereka yang tidak bekerja bisa memanfaatkan waktu dengan mengikuti kegiatan Ramadhan,” kata Memet.
Pesantren
kilat Ramadhan dengan tema ”Proud to be A Moslem” diikuti 40 anak dan
remaja. Koordinator pelaksana kegiatan pesantren kilat, Fitri Yantin,
mengatakan, ide pesantren kilat Ramadhan ini justru berasal dari
orangtua santri TPA. ”Mereka menginginkan anak-anak mendapatkan tambahan
kegiatan selama bulan puasa,” ujar Fitri Yantin yang juga Wakil Ketua
Muslimat NU Inggris.
Menurut Memet, Pemerintah Inggris sangat
toleran terhadap kehadiran agama apa pun. Kebebasan beribadah sangat
dihargai. Itu pula yang dirasakan jemaah London Central Mosque, satu
masjid di London. Nikmat beribadah jika bisa seleluasa ini. Tidak ada
ketakutan menjadi kaum minoritas. (IVV)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar